Eliza Kissya: Ia yang Dapat Memanggil Ikan

Lukisan Eliza Kissya oleh Peter Gentur (Taring Padi)

Traveljunkieindonesia.com– Anda akan segera dapat mengenali Eliza Kissya, dengan baju hitam-hitamnya dan aksen warna merah yang selalu dipakainya sehari-hari. Anda juga dapat langsung mengenali tas ukulele yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Ia selalu memakai topi untuk menutupi kepalanya yang sudah tak berambut. Semua orang memanggilnya Om Eli.

Ia menjadi malu ketika ditanya untuk menuliskan namanya karena pengejaan yang seharusnya Elia menjadi Eliza. “Orang-orang selalu berpikir saya ini perempuan sebelum bertemu saya.” Elisa Kissya adalah Kewang (polisi adat) Haruku di Maluku Tengah. Ia adalah generasi keenam dari Kewang Haruku. Ia juga dikenal sebagai sang pemanggil ikan.

Tradisi Haruku dibagi menjadi Sasi Laut, Sasi Kali, Sasi Hutan, Sasi Dalam Negeri. Ada Sasi khusus yang bernama Sasi Lompa (ikan sejenis sarden kecil yang hanya ditemukan di Haruku). Sasi adalah larangan untuk mengambil sumber daya alam agar terjaga kualitas dan populasinya (binatang atau tanaman) bagi orang-orang Haruku. Sasi juga mengatur relasi manusia dengan alam dan di antara manusia di wilayah dimana Sasi dipraktikkan. Sasi adalah sebuah usaha untuk membagi dengan adil sumber daya kepada semua orang.

Sasi Lompa adalah larangan tradisional untuk mengatur keberlangsungan ikan Lompa. Hanya seorang Kewang seperti Om Eli yang dapat memanggil ikan Lompa dari laut untuk memasuki sungai mereka, Sungai Learisa Kayeli. Biasanya  mereka panen satu atau dua kali dalam setahun, melalui ritual dan berbagai larangan untuk menjaga populasi ikan Lompa. Panen terakhir mereka dilakukan di tahun 2009. Saat ini dikarenakan oleh perubahan iklim dan pemboman iklan, muara jadi tertutup. Terlalu tinggi untuk ikan Lompa dapat masuk ke sungai.

Selama bertahun-tahun, Om Eli telah berjuang melawan pengrusakan alam di wilayahnya. Ia telah menjaga dan menjadi penjaga lingkungan hidup di Haruku. Berdasarkan kerja-kerja yang dilakukannya Haruku meraih penghargaan Kalpataru untuk Lingkungan Hidup di tahun 1985, desanya meraih Satya Lencana untuk Pembangunan Berkelanjutan di tahun 1999 dan dedikasi personalnya meraih Coastal Award 2010.

Eliza Kissya dilahirkan di Haruku pada tanggal 12 Maret 1949, ayahnya adalah pegawai negeri sipil di Sukabumi, Jawa Barat. Ketika ayahnya meninggal, ibunya berjanji untuk membawa anak-anaknya kembali ke Haruku. Seharusnya kakaknyalah yang menjadi kewang, namun karena kakaknya telah menjadi sekretaris desa maka marga desanya memilihnya untuk melanjutkan tradisi menjadi kewang. Ia menjadi kewang di usia dua puluh satu tahun.

Adalah masa-masa yang sulit baginya untuk mempelajari segalanya dari para tetua adat, namun hal ini tidak menghentikannya untuk terus belajar dan mengembangkan metodenya sendiri dalam menjaga lingkungan Haruku. Hal terberat dalam tugasnya menjadi kewang adalah bahwa tidak adanya pengakuan dari negara mengenai hukum adat di wilayahnya. Ketika UU Desa No. 5 – 1979 diperkenalkan oleh Orde Baru, norma dari sistem masyarakat adat diabaikan dan mulai lenyap. Generasi muda tidak peduli lagi mengenai hukum adat. Sulit baginya untuk membayangkan siapa yang akan meneruskan tradisi Haruku jika ia tidak lagi ada.

Om Eli tidak menyerah, ia mendirikan “Kewang Cilik” di desanya. Mengumpulkan anak-anak kampung termasuk cucu-cucunya sendiri. Membuat sebuah pusat pembelajaran kecil-kecilan dimana mereka dapat bermain sambil belajar bagaimana menjaga lingkungan dan mengapa adalah penting bagi mereka untuk mengerti kearifan lokal mereka sendiri. Di tahun 2006 ketika penambangan emas mengancam daerah mereka untuk kesekian kalinya dan ketika para pejabat datang untuk menegosiasikan perihal ini, anak-anak SD menulis di poster mereka sendiri berkata: Kami Ingin Mati Di Tanah Kami. Tolak Tambang Emas!

“Saya mencintai anak-anak dan cucu-cucu saya. Saya rela untuk mati demi mereka. Ini adalah mengapa saya tetap terus memperjuangkan kelestarian tanah dan adat kami,” tegas Om Eli. “Anak-anak kita dan generasi ke depan adalah harapan dan masa depan, adalah penting bagi mereka untuk memiliki kesadaran akan alam dan sejarah mereka sendiri,” ia menambahkan. Alasan inilah yang menjadi motivasinya pada waktu-waktu tergenting ketika ia berjuang di pengadilan atau menghadapi kasus-kasus yang mendorong pada keterbatasan dirinya. Seringkali bahaya mengancamnya karena ia menghadapi persoalan-persoalan ini secara langsung.

Kasus seperti pemboman ikan membuatnya bingung untuk mengambil keputusan dan tindakan. Ketika ia menangkap seorang pembom ikan dan membawanya ke pengadilan, hal ini dapat menyebabkan konflik antar desa, apalagi pasca konflik Maluku ketika segalanya menjadi sangat sensitif. Tetapi ia juga tidak bisa membiarkan pembom ikan pergi begitu saja, ia menjadi serba salah. Namun pada akhirnya Om Eli berhasil menemukan sebuah jalan dengan memberi ternak kepada keluarga pembom ikan sehingga mereka dapat menghidupi diri mereka sendiri tanpa membom ikan lagi. Bagi Om Eli menjaga keseimbangan di antara manusia sama pentingnya dengan menjaga keseimbangan alam. Isu-isu lingkungan seharusnya memasukkan faktor-faktor manusia sebagai bagian dari kesatuan alam.

Pasca konflik Maluku, Om Eli menjadi relawan dalam proses rekonsiliasi. Desanya dibakar sampai rata dengan tanah. Ia mengumpulkan semua orang yang tersisa dan berkata bahwa menyimpan dendam adalah sia-sia, lebih baik berdamai saja. Ia membuat kaus-kaus dan tas-tas yang bertuliskan “Ale Rasa, Beta Rasa. Semua Orang Bersaudara.” Ia menyebarkan kampanye perdamaian di wilayahnya, mengumpulkan komunitas-komunitas di Haruku untuk membangun hidup bersama kembali. Ia menulis lagu-lagu perdamaian dan bernyanyi bersama dengan semua orang:

Satu kandung

Satu hati, satu jantung

Hidup adik, hidup kakak

Ale rasa beta rasa

Satu dua satu kandung

Kandunge siyo kandunge

Mari beta gendong

Beta gendong adek jua

Kitong orang bersaudara

(Eliza Kissya)

Pada usia enam puluh tiga tahun, dengan ukulele buatanya sendiri yang dibuat dari kayu Pule, ia mulai menulis pantun dan  menyanyikannya. Ia menyimpan ratusan pantunnya di sebuah buku catatan. Seringkali ia berpantun dalam pembicaraannya. “Saya terberkati dalam usia begini masih bisa belajar sesuatu seperti menulis pantun,” kata Om Eli. Ia bermimpi suatu hari dapat menerbitkan buku kumpulan pantunnya sendiri.

Dedikasi seorang Eliza Kissya tidak dapat diukur, sehari setelah infusnya dicabut sekeluarnya dari rumah sakit, ia menghadiri Kongres Masyarakat Adat IV di Tobelo, Halmahera Utara. “Saya mungkin hanya seorang cangkul kebun, tetapi saya punya prinsip hidup. Dan karena itu saya telah berjuang sepanjang hidup saya.” (Astrid Reza)

Sumber: kongres4.aman.or.id

Happy Green Travels!

Follow us on Twitter @TravelJunkieID & like us on Facebook.

SHARING IS CARING
Share on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Facebook

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *