Pulau Tidung, Sampah, Travel Junkie Indonesia

Kepulauan seribu – Traveljunkieindonesia.com – Berbekal sebuah itinerary dari temen di FB, Tiga hari penuh saya telusuri pulau Tidung dan pulau-pulau sekitar, dan terkesima dengan keburukan pulau tersebut yang kini menjadi salah satu pulau favorite baru.

Dari pelabuhan Muara Angke, terlihat antrian panjang para traveler yang akan haus keindahan pulau Tidung. Konon, yang mengunjungi pulau tidung long weeken ini sekitar 2000 traveler.Dermaga muara angke ini terkesan tak terurus mungkin karena menjadi satu dengan dermaga untuk nelayan dan pasar ikan tradisional. Tapi, begitu sampai, ternyata tampilan pulau Tidung lumayan juga. Bentuknya agak mengingatkan saya pada kepulauan karimunjawa di Jepara pada 2015, jika tourism management karimunjawa belum ada perubahan. Matahari Pulau Tidung yang terik menyambut gembira begitu saya keluar dari kapal kayu berpenumpang tak terhingga itu, untuk kemudian bergegas menuju homestay Bu Ida (085710185087 / 085810225221), tepatnya di sebelah SLTP Negeri 241 JKT.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari Muara Angke, sampailah saya di homestay. Rumah penduduk lokal berwarna hijau putih dan bersih yang terletak sekitar 5 menit dari dermaga ini merupakan bangunan peninggalan Wa’Turup (Panglima Hitam) tokoh yang dihormati penduduk lokal dan makamnya kini dikramatkan di pulau tidung kecil. Jangan harap disana mendapatkan Hotel atau resort mewah, di sana hanya terdapat rumah penduduk lokal yang disulap menjadi homestay.

Untuk Anda yang sedang traveling on a budget, pulau Tidung bisa jadi pilihan alternative lain. Selain harganya yang murah, lokasinya juga strategis. Pulau ini dibagi menjadi dua Tidung Besar dan Tidung Kecil. Di sini, berbagai restoran dan pilihan jajanan pinggir jalan yang menyajikan aneka menu, mulai dari bakmi, bakso, hingga es yang terkenal, bisa Anda temukan. Lalu, ada pula Jembatan Cinta penghubung Tidung Kecil dan Tidung Besar yang dapat ditempuh hanya dalam 8–10 menit berjalan kaki. Di setiap jalan, terdapat tempat rent sepeda yang bisa mengantarkan Anda keliling Pulau dengan nyaman.

Ada satu tempat yang sukses membuat penasaran, setelah saya dan beberapa teman travel junkie, browsing dari blog-blog dan menurut info dari berbagai sumber, Pulau Tidung ini 3 bulan terakhir sedang naik daun dan terpilih jadi salah satu pulau terfavorite di Kepulauan Seribu. Akhirnya, kami sepakat memilih Pulau Tidung sebagai tujuan long weekend kali ini. Sambil menenteng tas selempang made in Bali yang berisi beberapa buku, kain bali, sunblock, dan bantal tiup, kami pun memulai perjalanan. Rencananya, Saya ingin mengexplore pulau ini untuk mencari spot menikmati berjuta kata-kata dalam buku, blue sky, white sand, deru ombak, dan tak ada teknologi tentunya. Tapi, berhubung tak ada spot bagus, saya pun gagal menikmati semua itu. Dan, ternyata pulau ini dikelilingi sampah dimana-mana. Sungguh sangat disayangkan pulau cantik ini berubah menjadi pulau bantar gebang. Semoga dengan artikel ini pihak terkait tersentuh dan memperbaikinya sebelum semua terlambat.

Setelah berjalan manis, kami mencoba menyewa sebuah kapal untuk mengexplore pulau-pulau sekitar dan menikmati olahraga underwater. Pulau lainnya pun. Rasanya, sih, tidak terlalu wah. Tapi cukup menyegarkan di bandingkan sampah Tidung.

Dari pulau-pulau yang saya singgahi, pulau Kotok, pulau Air, pulau Payung, dan lain-lain. Ada, satu pulau kosong yang menarik. Pulau ini tak bernama, maka dengan itu saya memberi nama pulau Travel Junkie Indonesia. Luasnya sekitar 100 meter dan hanya ada pasir putih dengan air berwarna biru. Tapi, sayang, pulau ini terlihat diabaikan. Mungkin beberapa tahun kedepan pulau ini akan hilang terkikis ombak.

Penduduk Pulau Tidung mayoritas beragama islam dan hanya satu orang beragama non muslim, kami tak heran karena banyak petunjuk-petunjuk yg menggunakan beberapa bahasa termasuk bahasa arab. Berhubung pakaian saya kala itu kurang sopan, saya mendapat tegur dari sekelompok pria yang menggunaka busana muslim di ujung pantai barat menjelang sunset. Beruntung, ada sekelompok turis chinese yang dengan santai masuk ke areal itu. Dan, itu lah waktu tepat agar saya tak mendapatkan ceramah lebih lama lagi, namanya juga liburan dipantai masa pake baju tertutup, kan mau tanned. Hal sampah ini lah yang menjadi “Here’s something to remember this place,” sambil tersenyum dan garuk-garuk kepala sambil berucap dengan logat betawi yang kental. Akan kah saya berkunjung ke pulau Tidung lagi? Hehehe…

Follow him on Twitter @TravelJunkieID

SHARING IS CARING
Share on Google+Share on LinkedInTweet about this on TwitterPin on PinterestShare on Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *